Saturday, April 05, 2014

Serial #1: Temukan Penderita TB

Beberapa hari yang lalu saat sedang menyempat2kan bw (kesannya sibuk betuull) ke blog teman2 dari keb, saya tertarik dengan tulisan Mbak Susan, tentang pengalamannya dengan seorang penderita TB. Saya sangat tertarik karena kebetulan saat ini saya juga sedang menemani seorang penderita TB yang kebetulan adalah karyawan saya sendiri untuk mendapatkan pengobatan TB DOTS selama enam bulan ke depan.

Sekitar lima bulan yang lalu, Mbak Imah saya terima kerja di warung saya. Sejak awal Mbak Yanti yang merekomendasikan Mbak Imah ini, sudah memberi tahu saya kalo Mbak Imah ini sebenarnya gak dibolehin kerja oleh suaminya karena badannya lemah, sering sakit. Saya memang gak menanyakan lebih lanjut sering sakit yang dimaksud Mbak Yanti itu apa dan bagaimana. Karena toh pekerjaan Mbak Imah ini nantinya cuma bantu-bantu Mbak Yanti masak, yang menurut saya juga bukan pekerjaan berat. Tapi setelah sebulan bekerja, "sering sakit"nya Mbak Imah ini mulai terlihat. Sebentar-sebentar dia mengeluh demam, masuk angin, gak enak badan, dan memang badannya anget-anget ketika saya pegang. Dan biasanya kalo udah seperti itu, Mbak Imah saya suruh pulang untuk istirahat di rumah. Dan dia selalu menolak karena dia merasa masih kuat untuk menyelesaikan pekerjaannya. Besoknya lagi dia mengeluh perutnya sakit, diare, pokoknya banyak banget yang dia keluhkan. Dan saya perhatikan badan Mbak Imah ini tambah kurus terus.

Sekitar dua bulan yang lalu, Mbak Imah berobat ke puskesmas, tapi dia masih masuk kerja. Obat yang diberikan puskesmas adalah obat-obat untuk ngobatin keluhan-keluhan Mbak Imah, seingat saya obat diare, zinc, antibiotik dan obat penurun panas. Tapi yang kadang bikin saya dongkol adalah Mbak Imah ini gak mau teratur minum obat dan makan makanan yang bergizi. Dia ini lebih suka makan makanan ringan (baca: chiki-chiki) bahkan sebelum minum obat. Beberapa waktu kemudian Mbak Imah ijin untuk istirahat dulu di rumah. Dia gak masuk kerja selama dua minggu. Saya sangat berharap setelah dua minggu beristirahat di rumah, dia akan jauh lebih sehat ketika masuk kerja lagi. Tapi ternyata gak ada perubahan yang berarti setelah libur sakit ini. Sejak itu saya lebih memperhatikan kondisi Mbak Imah. Dan maaf, karena saya agak gak enak hati untuk menanyakan tentang kondisi kesehatannya yang gak juga membaik, akhirnya saya cuma bisa kasak-kusuk sama Mbak Yanti kalo lagi gak ada Mbak Imah. Dari situ saya tau kalo ternyata Mbak Imah ini seorang perokok. Bahkan sampai saat itu, pas dia sudah sakit batuk-batuk pun dia masih merokok. Dan dari situ saya baru benar-benar memperhatikan kalo Mbak Imah ini memang kadang batuk-batuk, walaupun saya gak sering dengar batuknya.

Melihat kondisi Mbak Imah yang terus menurun ini, akhirnya saya bujuk dia untuk mau saya bawa berobat ke dokter keluarga dari kantor suami saya. Tanpa bermaksud untuk merendahkan dokter di puskesmas tentunya. Walaupun awalnya dia gak mau, tapi saya jelaskan bahwa itu untuk kebaikan dia sendiri, agar dia sehat lagi dan badannya gak kurus terus, akhirnya sekitar dua minggu yang lalu dia mau saya bawa ke dokter. Sesuai harapan saya, Dokter Jimmy ini memeriksanya benar-benar memuaskan, benar-benar diperiksa pokoknya. Dan malam itu juga Dokter Jimmy menyarankan untuk Mbak Imah di-rontgen untuk melihat kondisi paru-parunya. Menurut Dokter Jimmy tanpa foto rontgen pun, melihat dari kondisi badan dan hasil pemeriksaan awal saja, sudah bisa diketahui kalo Mbak Imah ini sakit TB.

Dari hasil foto rontgen Mbak Imah, Dokter Jimmy merujuk Mbak Imah ke RSU untuk berkonsultasi ke Dokter Spesialis Paru. Tapi yaah, saya sendiri bingung karena untuk berobat ke RSU secara gratis, Mbak Imah harus terdaftar sebagai anggota BPJS. Bukannya setengah-setengah mau bantuinnya, tapi harus mengurus BPJS dengan kendala-kendala dari keluarga Mbak Imah sendiri sempat membuat saya "down".

Dua hari kemudian, saya berinisiatif untuk membawa Mbak Imah ke puskesmas lagi dengan membawa foto rontgen Mbak Imah. Alhamdulillah ternyata di puskesmas gak perlu pake BPJS, hanya saja sesuai prosedur pengobatan TB, Mbak Imah harus melakukan pemeriksaan dahak. Karena untuk memastikan bahwa Mbak Imah menderita TB, pemeriksaan dahaklah yang paling akurat. Dan lagi-lagi semangat Mbak Imah untuk berobat langsung ngedrop. "Ribet Mbak.." kata Mbak Imah desperately. Memang di hari itu, dia dan saya sangat berharap untuk bisa langsung mendapatkan obat TB. Tapi karena sudah ketentuan dari pemerintah, untuk mendapatkan pengobatan TB DOTS gratis, memang harus dengan pemeriksaan dahak.

Saat ini, kami masih menunggu dihubungi pihak puskesmas untuk mengetahui hasil pemeriksaan dahak Mbak Imah. InshaAllah Senin besok saya akan ke puskesmas untuk menanyakan hasil pemeriksaan dahak Mbak Imah. Karena sampe hari ini berarti sudah semingguan kami menunggu telpon dari puskesmas. Yang saya kuatirkan, puskesmas sudah menghubungi Mbak Imah tapi Mbak Imahnya gak mudeng. Tapi tadi saya sudah telpon lagi Mbak Imahnya dan dia bilang belum ada telpon dari puskesmas.

Oke deh, mudah-mudahan Senin besok udah ada hasil pemeriksaan dahaknya dan Mbak Imah bisa secepatnya memperoleh pengobatan TB DOTS, dan kondisinya bisa membaik. Aamiin :) 

Bersambung............


2 comments:

  1. Mudah-mudahan Allah kasih kesembuhan buat Mbak Imah ya, aamiin.
    Kadang memang yang lebih khawatir malah orang-orang di sekitarnya, ketimbang orang yang sakitnya itu sendiri..

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...