Sunday, April 13, 2014

Serial #2: OAT Untuk Mbak Imah

Masih ingat cerita saya dengan karyawan saya, Mbak Imah yang sakit TBC? Setelah hampir dua minggu menunggu hasil pemeriksaan dahak Mbak Imah, akhirnya saya mendatangi puskesmas untuk menanyakan hal itu, dan hasilnya positif dahak Mbak Imah mengandung bakteri Tuberkulosis. Dan yang saya kuatirkan memang beneran terjadi, sebenarnya pihak puskesmas sudah menelepon Mbak Imah, tapi entah Mbak Imahnya yang gak mudeng atau dia merasa "dipersulit" karena dokter di puskesmas Sepinggan pernah mengatakan kalau pemberian paket TB DOTS untuk Mbak Imah ini nantinya akan dilanjutkan di Puskesmas Manggar karena Mbak Imah adalah warga kelurahan Manggar bukan Sepinggan.

Selain semangat yang udah mulai ngedrop, Mbak Imah dan keluarganya adalah orang-orang yang sangat percaya hal-hal mistis. Walaupun saya udah meyakinkan kalau dia memang menderita TBC dan harus mengkonsumsi obat selama 6 bulan, Mbak Imah dan keluarganya lebih percaya kalau dia saat ini sedang "keteguran". Keteguran tuh istilah orang Banjar kalau seseorang diganggu mahluk halus yang semacam itulah pokoknya. Ketika saya datangi beberapa waktu yang lalu, badan Mbak Imah sudah terlihat lebih kurus dari sebelumnya dan terlihat sangat pucat. Tapi ya gitu deh, ketika saya mulai membahas tentang TB DOTS, dia malah pengen berobat ke orang pintar aja katanya *sigh.

Di hari berikutnya saya menemui perawat yang bertugas menangani pengobatan TB DOTS di puskesmas Sepinggan. Alhamdulillah menurut beliau pemberian TB DOTS untuk Mbak Imah gak perlu dilimpahkan ke puskesmas Manggar. Memang sebenarnya lebih baik kalo pasien TB yang datang ke puskesmas berasal dari wilayah kelurahan di mana mereka tinggal, untuk memudahkan pendataan dan laporan ke dinas kesehatan. Tapi hal itu gak mutlak, seperti Mbak Imah yang dari awal selalu berobat di puskesmas Sepinggan, dan merasa nyaman ketimbang harus ke puskesmas Manggar. Dengan alasan itulah puskesmas tetap memberikan paket pengobatan TB DOTS walaupun Mbak Imah bukan warga kelurahan Sepinggan.

Alhamdulillah akhirnya Mbak Imah mau saya bawa ke puskesmas lagi untuk mendapatkan paket obat TB DOTS. Paket obat TB DOTS dari puskesmas ini gratis dari pemerintah dibantu oleh WHO. Tadinya saya mengira obat TB ini banyak dan akan menyulitkan pasien untuk mengkonsumsinya sampai diperlukan seorang PMO selama pengobatan.

Paket Obat TB DOTS atau OAT (Obat Anti TB)

Paket FDC Merah untuk fase intensif

Pengobatan TBC terdiri dari dua fase, fase intensif untuk 2 bulan pertama dan fase lanjutan selama 4 bulan. Untuk fase I, Mbak Imah akan mengkonsumsi tablet kombinasi yang berisi obat INH, Rimfapisin, Pirazinamid dan EntabutolUntuk Mbak Imah yang berat badannya tinggal 30kg, obatnya diminum 2 tablet sekaligus. Ternyata mengkonsumi obat TBC tidak seribet yang saya bayangin, sehari hanya sekali minum obat. Tapi harus benar-benar rutin dan tidak boleh terlewat. Obat TB yang berisi kombinasi bebrapa antibiotik ini disebut dengan Fixed Dose Combination (FDC). Tablet FDC ini lebih baik diminum sebelum makan, tapi ada pasien tertentu yang tidak bisa mengkonsumsi obat sebelum makan, karena mual atau apalah, obat ini bisa dikonsumsi setelah makan. Mbak Imah sendiri memilih meminumnya sebelum tidur malam.


 Paket FDC Kuning untuk fase lanjutan.

Untuk memudahkan pengawasan dan untuk melihat perkembangan kesehatan pasien, pihak puskesmas tidak langsung memberikan satu paket OAT sekaligus, tapi diberikan untuk seminggu terlebih dulu. Selama seminggu mengkonsumsi Rifampicin ini, akan dilihat apakah Mbak Imah mengalami keluhan tertentu atau tidak. Jika Mbak Imah mengalami keluhan-keluhan setelah mengkonsumsi obat ini, maka Mbak Imah harus segera periksa lagi ke puskesmas agar tetap bisa melanjutkan pengobatan TBC. Tapi mudah-mudahan Mbak Imahnya gak ada keluhan apa-apa, cepat gemuk lagi dan cepat sehat lagi. Aamiin..

Hasil periksaaan dahak Mbak Imah


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...